ILMU HISAB RUKYAT: Menggali Khazanah Keilmuan Islam Yang Termarginalkan(?)

24 September 2008 at 12:33 pm 3 komentar


*

Oleh: M. Khoirul Anam, M.Ag

إن خيارعباد الله الذين يراعون الشمس و القمر لذكر الله (رواه الطبراني)

“Sesungguhnya hamba-hamba Allah yang terpilih

Adalah mereka yang memperhatikan Matahari dan Bulan untuk

Dzikrullah (mengingat Allah)” (HR. Ath-Thabraniy)

Iftitah

Ketika bulan Ramadhan menjelang, wacana ilmu falak meluncur deras di kalangan masyarakat Muslim. Dan wacana itu semakin santer tatkala penentuan awal Syawal, yang nota bene kepastian Hari Raya Idul Fitri, mulai mendekat. Tentu saja ini dapat dimaklumi, sebab beberapa tahun belakangan di kalangan masyarakat Muslim Indonesia ada perbedaaan yang mencolok dalam menentukan hari raya Idul Fitri (tahun ini penentuan Idul Fitri sangat dimungkinkan sama). Pertanyaan yang seringkali mengemuka adalah “Mengapa terjadi perbedaan penentuan hari raya? Bukankah dalam menentukan awal bulan Hijriyah/Qomariyah acuannya adalah bulan (Hilal)? Bukankah bulan (Hilal)nya hanya satu?”

Anehnya, diskursus tentang perbedaan hari raya ini hanya berputar-putar pada saling “ejek”, “mengaku benar” bahkan saling “menyalahkan” antar mereka yang berbeda; tanpa ada upaya –untuk tidak mengatakan “acuh tak acuh” dan “tidak mau tahu”– sekelompok umat muslim untuk mengkaji lebih dalam dan intensif tentang ilmu ini. Dan ironisnya, realitasnya hanya segelintir orang yang mau belajar dan peduli dengan ilmu langka ini.

Padahal Al-Qur’an dengan tegas menyatakan:

هو الذي جعل الشمس ضياء والقمر نورا وقدره منازل لتعلموا عدد السنين والحساب { يونس : 5 }

Dengan pendekatan kontekstual, ayat ini sebenarnya memerintahkan kepada umat muslim untuk mempelajari ilmu falak. Sehingga tidak berlebihan ketika Abdullah bin Husain, Ibnu Hajar dan Imam Ar-Ramli mewajibkan umat muslim untuk mempelajari ilmu falak.

ويجب تعلم علم الفلك بل تتحتم معرفته لما يترتب عليه معرفة القبلة وما يتعلق بالأهلة كالصوم. سيما في هذا الزمان لجهل الحكام وتساهلهم وتهورهم , فإنهم يقبلون شهادة من لا يقبل بحال

Ilmu Falak dalam lintasan sejarah

Pada era Yunani Kuno orang mulai mengenal cosmos (alam semesta) dengan pendekatan kasat mata an sich. Artinya, dalam memandang alam semesta dan fenomena alam mulai dari gerhana sampai jatuhnya meteor sesuai dengan penglihatan saja; bahkan dibumbui anggapan mistis dan mitos. Ketika terjadi gerhana Matahari, misalnya, ada anggapan bahwa “Buto Ijo” sedang menelan matahari, dsb. Dan hanya beberapa orang saja yang memahami fenomena alam tersebut secara rasional dan aqliy.

Diantara yang berpandangan rasional itu adalah Aristoteles (384-322 SM) dan Claudius Ptolomeus (140 M), keduanya berpendapat bahwa bumi adalah pusat cosmos. Menurut mereka, semua planet, termasuk matahari, bergerak mengelilingi bumi. Sehingga pandangan ini dikenal dengan sebutan geosentrisme (geo: bumi; sentries: pusat). Paham ini bertahan sampai abad ke-6 M tanpa ada perubahan yang berarti.

Baru setelah Islam hadir, pandangan tentang jagad raya yang berbau mistis dan mitos itu dimentahkan oleh Al-Qur’an. Beberapa ayat menegaskan bahwa bumi mempunyai garis edarnya sendiri, begitu halnya dengan matahari.

لا الشمس ينبغي لها أن تدر القمر ولا الليل سابق النهار وكل في فلك يسبحون ( يس: 40)

وهو الذي خلق الليل والنهار والشمس والقمر كل في فلك يسبحون (الأنبياء: 33)

Namun pada masa itu ayat-ayat tersebut belum sepenuhnya dapat dibuktikan secara ilmiah oleh umat muslim. Baru sekitar 300 tahun setelah Nabi Muhammad SAW wafat, ayat-ayat itu mulai diotak-otak para ilmuwan Muslim dengan pendekatan dan sentuhan-sentuhan ilmiah yang rasionalitasnya dapat dibuktikan.

Pada tahun 773 M seorang pengembara India menyerahkan kepada kerajaan Islam di Baghdad sebuah buku data astronomis berjudul “sindhind.”. Khalifah Abu Ja’far al-Manshur memerintahkan kepada Ibrahim al-Fazari untuk menerjemahkannya ke dalam bahasa Arab. Atas usaha inilah al-Fazari dikenal sebagi ahli ilmu falak pertama di dunia Islam.

Pada abad ke-8 M muncul Abu Ja’far Muhammad bin Musa al-Khawarizmi. Mengacu pada karya al-Fazari, dialah orang pertama yang mengolah sistem penomoran India menjadi dasar operasional ilmu hitung; dengan menemukan angka 0 (nol); yang dituangkan dalam magnum opus (karya agung)nya Al-Mukhtashar fi Hisabil Jabr wal Muqabalah dan Surutul Arld. Dia pula yang menyusun table trigonometri Daftar Logaritma seperti sekarang ini. Di samping itu, al-Khawarizmi juga menemukan bahwa zodiac atau ekliptika itu miring sebesar 23,5 derajat terhadap equator –sehingga dapat diketahui pergantian musim di permukaan bumi.

Kemudian ada Abu Ma’syar (dikenal di Eropa dengan Albumasyar), Abu Bakar al-Hasan bin al-Hasib (Albubacer), serta Ibrahim Az-Zarqali (Arzalchel). Dan yang tak akan pernah dilupakan oleh ahli falak adalah sumbangsih Ulugh Bek, ahli astronomi dari Iskandaria, lewat obsservatoriumnya berhasil menyusun tabel data astronomis yang banyak digunakan dan yang mengilhami perkembangan ilmu falak dan astronomi hinggga sekarang ini.

Gerakan besar-besaran dalam mengkaji astronomi (ilmu falak) ternyata tidak hanya di Dunia Islam. Di Erop — lewat karya-karya besar astronom Muslim di atas yang diterjemahkan ke dalam bahasa Eropa– mulai mengotak-atik ilmu ini. Orang Eropa pertama yang melakukan kajian di bidang astronomi adalah Nicolas Copernicus (polandia), lewat bukunya Revolutionibus Orbium Celestium dia menentang paham geosentrisme dan menyatakan bahwa pusat dari jagad raya adalah matahari, atau yang dikenal paham Heliosentrisme (helio: matahari; sentries: pusat). Kemudian diikuti oleh Galileo Galilei yang menyusun teori kinematika dan menemukan teleskop. Dan yang paling gemilang adalah apa yang dilakukan oleh Johannes Kepler (Jerman). Dia mengadakan penelitian benda-benda langit dengan sangat teliti dan akurat. Sehingga dia berhasil menemukan hukum universal tentang kinematika planet yang menjadi landasan dalam ilmu astronomi.

Perkembangan ilmu falak (astronomi) terus berlanjut ke seluruh belahan dunia, tidak terlepas ke Indonesia juga. Tercatat hampir 50 system lebih yang beredar di Indonesia, mulai dari system hisab rukyat yang masuk kategori Urfi, Tahqiqiy sampai yang ‘Ashriy (kontemporer).

Kontruksi Ilmu Falak

Di Dunia Islam materi Ilmu Falak yang ditelaah dan dikaji adalah yang berhubungan dengan ibadah; sehingga pada umumnya pembahasannya berkutat pada 4 bidang. Yaitu, pertama Arah Kiblat dan bayangan arah kiblat, yaitu menghitung besaran sudut yang melewati suatu tempat yang dihitung arah kiblatnya dengan lingkaran besar yang melewati tempat yang bersangkutan dan ka’bah, serta menghitung jam berapa matahari memotong jalur ka’bah. Arah kiblat ini bisa ditentukan dari setiap titik atau tempat di permukaan bumi dengan melakukan perhitungan dan pengukuran. Hal ini tentu sangat diperlukan, sebab untuk melakukan salah satu syarat sahnya shalat adalah menghadap kiblat.

البيت قبلة لأهل المسجد والمسجد قبلة لأهل الحرم والحرم قبلة لأهل الأرض في مشارقها ومغاربها من أمتي (رواه البيهاقي)

Kedua waktu-waktu sholat, dalam al-Qur’an dan Hadis secara tekstual hanya menunjukkan waktu shalat dengan fenomena alam saja; di mana kalau tidak menggunakan ilmu falak tentu akan mengalami kesulitan. Sebab hakekatnya penentuan waktu shalat adalah menghitung tenggang waktu antara ketika matahari berada di titik kulminasi atas dengan waktu ketika matahari berkedudukan pada awal-awal waktu sholat.

وقت الظهر إذا زالت الشمس وكان ظل الرجل كطوله ما لم يحضر العصر ووقت العصر ما لم تصفر الشمس ووقت صلاة المغرب ما لم يغرب الشفق ووقت صلاة العشاء إلى نصف الليل الأوسط ووقت صلاة الصبح من طلوع الفجر ما لم تطلع الشمس (رواه مسلم)

Ketiga gerhana., adalah menghitung waktu terjadinya kontak antara matahari dan bulan. Fenomena alam ini dapat dilihat di permukaan bumi yaitu ketika bulan menutupi matahari (Kusuf: menutupi; gerhana matahari). Begitu pula sebaliknya, ketika terlihat bulan memasuki bayangan bumi (Khusuf: memasuki; gerhana bulan). Dengan adanya fenomena alam berupa gerhana ini umat Muslim dianjurkan untuk melakukan sholat kusuf maupun khusuf.

Dan keempat awal bulan, adalah menghitung waktu terjadinya ijtima’ (conjunction), yakni posisi matahari dan bulan berada pada satu bujur astronomi, serta menghitung posisi bulan ketika matahari terbenam pada hari terjadinya ijtima’ itu. Dari perhitungan ini dapat diketahui kapan awal bulan qomariyah dimulai. Pada perhitungan inilah yang menimbulkan polemik dan perbedaan. Sebab pada prinsipnya ada beberapa kriteria yang berkembang di kalangan ahli falak –baik yang berpegang pada sistem Hisab maupun Rukyat dalam penentuan awal bulan qomariyah.

Pertama, kriteria wujudul hilal, yaitu mereka yang beranggapan berapapun ketinggian hilal kalau memang suduh wujud (di atas ufuq) maka besoknya sudah masuk awal bulan; tanpa menggunakan rukyatul hilal.

Kedua, kriteria imkanur rukyat, yakni mereka yang berpandangan bahwa untuk menentukan awal bulan harus ditetapkan perkiraan ketinggian hilal dapat dilihat. Jika menurut hasil hisab sudah memenuhi kemungkinan hilal dapat dilihat –meskipun ketika rukyat tidak berhasil melihat hilal—maka besoknya dianggap sudah awal bulan. Adapun perkiraan kemungkinan hilal dapat dilihat, menurut pendapat kedua ini, juga berbeda-beda; ada yang menyatakan bahwa ketinggian hilal yang dapat dikatakn imkanur rukyat adalah 2 derajat, 5 derajat dan 8 derajat.

Ketiga, kriteria rukyatul hilal bil fi’li, yaitu mereka yang beranggapan bahwa untuk menentukan awal bulan qomariyah harus dengan dan melalui pengamatan secara langsung –berapapun ketinggian hilal menurut hasil hisab. Dengan kata lain, meskipun menurut hisab ketinggian hilal sudah memungkinkan dirukyat, tapi jika tidak dapat dibuktikan melalui rukyat maka umur bulan harus istikmal (digenapkan 30 hari). Begitu juga sebaliknya, jika menurut hisab ketinggian hilal masih sangat kecil, tapi bisa dirukyat maka besoknya dianggap sebagai bulan baru.

Iktitam (Sebuah Solusi Penyatuan)

Sejatinya dapat dikemukakan bahwa ilmu falak mulai dari yang teori klasik sampai yang kontemporer adalah mengamati (rukyat) fenomena alam (Matahari,bumi,dan bulan) yang kemudian dituangkan dalam teori-teori perhitungan (hisab). Jadi pada dasarnya, rukyat adalah ”ibu kandung” dari hisab, dan hisab merupakan ”perwujudan” nyata dari rukyat. Sebab tanpa rukyat tidak mungkin ada data-data astronomis, dan sebaliknya tanpa hisab orang akan kebingungan untuk mengakses data terbaru dari data-data astronomis tersebut.

Oleh karena Ilmu Hisab Rukyat adalah sebuah pengetahuan tentang fenomena alam, maka tentu saja memerlukan pengamatan dan pengkajian secara simultan dan terus menerus. Dan ini membutuhkan ghiroh (kepedulian) semua pihak, sebab tanpa itu perbedaan akan terus berlangsung yang pada gilirannya akan membingungkan umat. Yang diperlukan adalah kearifan semua pihak untuk duduk bersama menyamakan persepsi –bukan menyamakan sistem– tanpa menyalahkan satu sistem dengan sistem yang lain. Sehingga pengejawantahan adagium agung

المحافظة علي قديم الصالح ولأخذ بالجديد الأصلاح dapat terwujud. Dan langkah yang paling krusial adalah bagaimana menjadikan ilmu falak tidak lagi sebagai ilmu yang langka dan ”marginal” (terpinggirkan). Semoga!


* Tulisan ini pernah dimuat di MPA (Majalah Pembangunan Agama) Kanwil Depag Prop. Jatim Edisi bulan September 2008

Entry filed under: HISAB RUKYAT (FALAK). Tags: , , , .

Mengungkap Jati Diri Saudagar Syaikon JAM HARI INI

3 Komentar Add your own

  • […] *) Tulisan ini pernah dimuat di MPA (Majalah Pembangunan Agama) Kanwil Depag Prop. Jatim Edisi bulan September 2008. Tulisan ini juga telah dipublish (dimuat) di website/weblog penulis https://elanamy.wordpress.com untuk mengakses silahkan klik disini […]

  • 2. ridho  |  21 Januari 2011 pukul 2:02 pm

    mudahnya ikut rasullullah dan para sahabatnya ghithu aja kok repooooot. apalagi anda bukan uluma bukan ahlinya. ngomong tanpa dasar ilmu dosa lhooooo…….

  • 3. ridho  |  21 Januari 2011 pukul 2:07 pm

    rasulullah dan para sahabat lebih jago dan paham agama tapi kok tdk pake hisab dalam menentukan awal bulan padahal ilmu hisab waktu itu sudah ada. saya tantang dengan sabda rasulullah kita adalah ummat yang buta huruf tdk butuh menulis dan menghitung( dalam menentukan awal bulan ) bulan begini dan begitu. kalau sejak beliau sudah dilarang kenapa ada nabi baru yang datang membolehkan bid’ah itu. lihat bantahan syaikh islam ibnu taimiyah dalam majmu fatawa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Warna-Warni Masa

September 2008
M S S R K J S
« Agu   Okt »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Yang Wira-Wiri Ke Sini:

  • 131,421
MAU DAPAT UANG TAMBAHAN? JOIN DI APENTA! Web Hosting RSSMicro FeedRank Results Locations of visitors to this page free counters

My site is worth
$1,002.75
Your website value?


%d blogger menyukai ini: